Makam Trap Selatan Makam Somokaton

Trap Selatan

Ada tiga makam sepuh dengan ciri nisan dari tahun 1600-1700 awal di trap Selatan pasarean ini. Tepatnya setelah gapura masuk pasarean. Di antara tiga makam sepuh itu, satu  makam memiliki panjang hingga 2 meter. Menurut Pak Dukuh, ini makam utama yang paling  besar dan panjang, yang bernama Kyai Drajat. Ia berdampingan dengan dua makam lain yang  sepertinya adalah makam keluarganya. Ada satu makam dengan kijing tidak terlalu panjang di

barisan ini yang memiliki nisan penuh guratan kembang patran. Sedangkan bagian mustaka  kijingnya berukir ragi atau motif padma bergurat lung-lungan.

Sebelum saya menyowani makam paling Utara pasarean Somokaton ini, saya terlebih  dahulu menghampiri dan mengirimkan doa untuk ketiga makam di trap Selatan-Barat ini. Saya  juga banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan panjang dari Mas Yosi, Mas Mei, dan Pak Pawiro  Rejoss di sini. Belakangan, setelah Pak Dukuh datang, barulah kabar mengenai nama Kyai Drajat  ini saya dapatkan.

Perkiraan Usia Kampung Somokaton

Secara umum, makam-makam di pasarean ini termasuk pasarean yang memiliki “koleksi” makam lengkap bila ditinjau dari periodesasi atau pertarikhannya terhitung sejak era awal  Mataram Islam. Makam dari masa 1500 akhir-1600 awal, 1600-1700, 1800-1900 hingga masa  setelahnya cukup banyak terhampar di sini. Apalagi makam dari tahun 1500 akhir-1600 awal yang hampir terdapat di setiap trap. Mulai dari trap teratas atau paling Utara, trap tengah, trap Selatan,

hingga trap Tengah-Timur di bawah rerimbunan pohon bambu dan di sisi Barat di bawah pohon  entah apa.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa usia kampung Somokaton dan sekitarnya ini  sudah sangat sepuh. Bukti nyatanya adalah makam-makam sebagaimana dijelaskan di atas. Logika  atau penalarannya dapat dirunut dengan teknik atau logika sebagaimana saya kemukakan di bawah  ini.

Pertama, sebut saja makam-makam tersepuh di sini berasal dari tahun 1600. Itu artinya  tokoh-tokoh yang dimakamkan dengan ciri nisan-kijing itu meninggal pada tahun 1600-an.  Dengan demikian, makam dari tahun 1600-an itu menunjukkan bahwa ada peradaban dan kebudayaan pada tahun itu. Maksud “ada peradaban dan kebudayaan” di sini artinya: di kampung  ini telah ada kehidupan yang sangat semarak dan ramai. Buktinya adalah bahwa makam-makam  dari tahun 1600-an itu tidak hanya satu.

Kedua, apakah makam dari tahun 1600-an itu berarti bahwa orang-orang yang  dimakamkan itu adalah orang yang dilahirkan pada tahun 1600-an? Tentu saja tidak. Sebelum  dimakamkan pada tahun 1600-an, mereka tentu saja telah hidup dan membangun peradaban di  sana jauh sebelum tahun 1600-an. Katakanlah hitungan kasarnya, mereka dilahirkan dan hidup  pada akhir tahun 1500.

Ketiga, diibaratkan saja mereka rata-rata berusia 60-70 tahun sebagaimana umumnya usia  umat Nabi Muhammad saw. Lalu dilihat saja bahwa makam-makam itu, sebagaimana telah  dijelaskan di atas, adalah makam dengan ciri dari tahun 1600-an. Bila diambil angka tahun 1640,  maka bisa dikurangi dengan usia rata-rata umat Nabi Muhammad saw. Alhasil, 1640 dikurangi 60  berarti: 1580. Bila dikurangi 70 berarti: 1570.

Keempat, ini artinya apa? Kampung Somokaton dan sekitarnya kurang-lebih telah dibuka,  dibangun, dan disemarakkan sejak tahun 1500 akhir atau dibulatkan saja sejak tahun 1550. Ini  perkiraan paling gampang. Jika dihitung mundur mulai tahun 2022, berarti kampung Somokaton  dan sekitarnya ini sudah berusia 472 tahun atau digenapkan saja 450 tahun. Besar kemungkinan  kampung ini telah dibuka berbarengan dengan rombongan Kyai Ageng Pamanahan dan Danang  Sutawijaya (Panembahan Senapati) membuka alas mentaok untuk didirikan cikal-bakal Kerajaan  Mataram Islam.

Berdasarkan keterangan Pak Dukuh melalui WhatsApp saya beberapa waktu lalu,  penalaran perihal kampung Somokaton yang berusia lebih dari 400 tahun ini dapati dimaklumi.

Sebab sebelumnya, telah ada bukti-bukti berupa lingga atau yoni yang ditemukan dan disimpan di  penampungan benda-benda kuno di Seyegan. Artinya, sebelum peradaban Islam di Kerajaan  Mataram dibuka, kampung ini juga telah ramai.

Makam-makam tua di pasarean Somokaton ini semoga dapat dijaga kelestariannya. Jika  ada anak-cucu yang mau memugar makam, hendaknya tidak menyingkirkan kijing dan nisan  aslinya. Biar kijing-nisan asli itu menjadi bukti sejarah bahwa sejak lebih kurang 450 tahun lalu di  kampung ini telah dikumandangkan azan, puji-pujian pada Kanjeng Nabi Muhammad saw, telah  ditegakkan salat, tahlil, kenduri, salawatan, dan ajaran Islam berlandaskan rumusan para wali  sejak Sunan Ampel hingga Sultan Agung Hanyakrakusuma. Semoga makam-makam ini bisa  dirawat, diziarahi, dan dijaga terus hingga akhir zaman. Amin.

Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 26 Juni 2022