Padukuhan Susukan : Cikal Bakal dari Mbah Susuk
Padukuhan Susukan terletak di Kalurahan Margokaton, Seyegan, Sleman. Dukuh Susukan III, Kamdi Harowi (59), menjelaskan Padukuhan Susukan adalah bekas peninggalan Belanda, yang disebut kalurahan lama terdiri dari tiga bekas kalurahan, meliputi Bekas Susukan, Bekas Planggok, dan Bekas Bokong. Padukuhan Susukan sekarang , terbagi menjadi tiga yaitu Susukan I, Susukan II, dan Susukan III.Padukuhan Susukan III, terdiri dari dua RW dan Lima RT dengan 180 Kepala Keluarga (KK) atau 800 jiwa.
Cikal bakal Padukuhan Susukan adalah Mbah Susuk, sepasang suami istri yang tinggal di tempat ini. Semasa hidupnya , tinggal di Susukan II, namun setelah wafat dimakamkan di wilayah Susukan I. Sampai sekarang makam masih ada dan terawat, dan sering diziarahi setiap tahun, pada bulan Bakda Mulud. Diberi nama Susukan, karena orang yang ‘bebadra’ pertama kali tinggal di daerah ini bernama Kyai dan Ny Susuk. Saat penjajahan Belanda, karena tempatnya sempit, dan pasukan Belanda banyak, maka Kyai Susuk berkata, “Jika besok terjadi kemakmuran di daerah ini, akan kuberi nama Susukan”.
Di Susukan III, ini juga terdapat peninggalan tokoh yang sangat disegani, yaitu Simbah Baidlowi. Konon ceritanya, beliau adalah prajurit Pangeran Diponegoro, yang tinggal di daerah ini dan diperkirakan pada tahun 1830. Di sini, beliau dan pengikutnya juga mengajarkan agama Islam. Hal itu ada hubungannya dengan perjalanan Sunan Kalijaga yang menyebarkan agama Islam di sekitar wilayah ini, seperti di daerah Ngino Kasuran, Kemusuh, Kerisan dan Mlangi masuk Kapanewon Gamping.
Menurut cerita awalnya daerah ini beragama Hindu, dibuktikan dengan adanya batu candi dan makam kuno. Kehadiran Prajurit Pangeran Diponegoro dan Mbah Baidlowi , membawa pengaruh besar dalam Islam. Pangeran Diponegoro berperang melawan penjajah Belanda, dengan cara gerilya sehingga lebih dekat dengan rakyat.
Masjid Al Muttaqin.
Masjid ini termasuk bangunan lama, merupakan bukti peninggalan Islam masa lalu. Masjid yang dulu dikatakan ‘wingit’, boleh dibangun tetapi tidak boleh merubah bentuk aslinya. Di depan masjid ini dulu ada dua pohon sawo, baru dipotong tahun 2015 karena sudah tua dan pertimbangan keamanan. Di dekat bangunan masjid ada kolam, konon diyakini air kolam ini mengandung berkah oleh masyarakat. Jika ada anak sakit dimandikan di kolam masjid ini segera sembuh.
“Bila kepala pusing kemudian mandi keramas di kolam itu akan segera merasa segar dan hilang pusingnya,” ujar Kamdi Harowi.
Masjid ini termasuk salah satu masjid ‘pathok negoro,’ kagungan Ngarsa Dalem, seperti yang ada di Mlangi, Kerisan, Ploso Kuning, dan Kemusuh. Ciri masjid ‘pathok nego’ pada pada tiang, di masjid ini tiangnya ada 16. Masjid ini berulangkali dibangun dan kapan dibangun ada tulisan tahun di kayu bagian atas . Beberapa waktu yang lalu masjid ini, juga dihadiri piyayi dari keluarga Kraton Yogyakarta . Mereka meminta agar bangunan masjid ini tetap dilestarikan jangan sampai tergeser oleh budaya baru. Di sekitar masjid juga ditemukan peninggalan kuno batu candi, bekas sumur tua dan banyak batu nisan yang berukuran besar.
Cerita lain tentang Padukuhan Susukan, menurut KH. Miftah Busrowi (48) takmir masjid Al Muttaqim, dari ayahnya almarhum M. Badri, dulu sebelum ada Susukan III, lokasi ini adalah ‘grumbul’. Ada sebuah padepokan, maka daerah ini juga dikenal dengan nama Depok, yaitu padepokan, dulu beragama Hindu.
Hal itu juga disampaikan Kamdi Harowi, di tempat ini ditemukan banyak batu candi. Namun tidak ada cerita yang bisa menunjukkan kepastiannya. Batu-batu itu banyak ditemukan di sekitar masjid, dan sekitar makam yang sampai saat ini terpisah-pisah tidak tersusun rapi dan utuh. Di padepokan itu dulu mempunyai banyak cantrik, karena tempat sempit dan cantriknya banyak maka kondisinya menjadi ‘suk-suk-an’, dalam bahasa Jawanya maka tempat ini lantas dinamai Susukan. Sampai sekarang, masih ada peninggalan –peninggalan yang berupa batu-batu candi berbentuk batako yang ditemukan di sekitar rumah ada 9 biji, maka disebut candi sembilan atau ‘Candhi Sanga’. Di tempat ini ada bekas sumur tua. Pernah ada kejadian yang dialami ayah beliau (KH Miftah Busrowi), ketika beberapa hari ada lolongan anjing di sekitar rumah, dicari tidak ada. Tapi setelah beberapa lama, ditemukan anjing itu ada di dalam sumur tua yang sangat dalam, sehingga suara itu kadang muncul, kadang menghilang. Setelah diangkat suara itu hilang.
Di lokasi sekitar masjid, yang berdekatan dengan makam, ketika digali ternyata ada sumber air yang seakan membentuk sungai dalam tanah. Itu dibuktikan sampai sekarang oleh masyarakat. Sungai itu seperti membentuk batasan tempat, di selatan masjid sumber air cukup banyak, tetapi di belakang masjid sulit mencari sumber air. Diceritakan bahwa daerah ini, rupanya dulu lembah, atau lebih rendah dari wilayah Susukan yang lain. Mulai belakang balai desa, dulu pernah muncul sumber air atau ‘tuk’ yang cukup besar, yang jika tidak karena pertolongan Allah, daerah ini mungkin jadi danau.
Hal itu dimungkinkan karena dari air yang menyembur itu sudah muncul ikan-ikan yang biasa ditemukan di laut, sumber itu atau pancaran air berhenti mengalir ketika ditutup dengan ‘gong’. Di daerah ini dulu juga ada gua untuk bersembunyi ketika zaman Jepang.
Masjid Al Muttaqin menurut Kyai Miftah, bukan dibangun langsung sekali jadi, tetapi dibangun sesuai bagian–bagian bekel. Karena pembangunan diserahkan kepada para bekel saat itu. Masjid itu mulanya hanya berupa bangunan sederhana, berpetak-petak, berdinding bambu dan beratap rapak. Masjid dibangun pada jaman simbah Nur Iman., salah satu prajurit pengikut Pangeran Diponegoro, yang mesanggrah di Susukan ini kemudian melanjutkan perjungannya sampai ke daerah Nanggulan, Kulonprogo.
Asal-usul Padukuhan Susukan menurut Drs. Taryoso (72) tokoh masyarakat, jabatan lurah saat itu tidak dipilih seperti sekarang ini, namun dipegang oleh keturunannya. Lurah pertama Kalurahan Margokaton simbah Wongso Dikromo, Lurah kedua puteranya yang bernama Wongso Yuwono. Beliau memegang kepemimpinan di Margokaton sampai meninggal dunia. Penggantinya puteranya yang bernama R. Margono, putera pertama Simbah Wongso Yuwono. Simbah Wongso Yuwono memiliki dua orang putera laki-laki, pertama R Margono yang menggantikan beliau sebagai lurah Margokaton. Putera kedua adalah laki- laki juga yang bernama R Suteja, beliau menggantikan R Margono. Lurah dengan jalan pilihan jatuh kepada putera kedua . R Suteja namun pada pemilihan berikutnya, dimenangkan KH.Ahmad Nawazi, tetapi beliau belum habis masa jabatannya meninggal dunian pada tahun 2019. Maka sejak tahun 2019. Pengganti antar waktu dipegang oleh R Sutejo kembali .
Drs Taryoso, tidak pernah mendengar tentang sejarah Mbah Susuk, dan asal-usul Susukan. Namun dari cerita lisan turun-temurun, tempat ini diberi nama Susukan karena yang menjadi cikal bakal adalah sepasang suami istri yang bernama Mbah Susuk. Nama makam Susukan I, adalah Ngesti Sono, terdiri dari tiga makam, yaitu Ngesti Sono I, II, dan III. Makam Ngesti Sono, saling berdekatan artinya bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Di makam Ngesti Sono I, yang merupakan makam pokok atau utama, dibangun aula yang pada malam Jumat atau waktu tertentu digunakan untuk mengadakan doa bersama. Di sana juga dipasang aturan-aturan tentang penggunaan tanah makam.
Makam Ngesti Sono II, letaknya tidak jauh dari lokasi makam I, jalan kaki tidak sampai lima menit sedangkan makam Ngesti Sono III, adalah makam tempat Mbah Kyai Susuk dan Nyai Susuk. Makam dibangun pada tahun 2000, nampak dari batu nisan. Di sebelah kiri bangunan , ada beberapa makam konon merupakan anak-cucu beliau. Makam Kyai dan Nyai Susuk , ini juga oleh masyarakat Susukan disebut makam candi, karena tidak jauh dari makam itu ditemukan candi berbentuk zoni, diperkirakan peninggalan tahun 900. Tetapi makam itu sudah ada sebelum tahun 2000. Di sebelah barat zoni, ada bangunan Pasanggrahan Handoko dibangun oleh Pejabat (Pj) lurah yang saat ini masih menjabat di kalurahan Margokaton yaitu R. Suteja.
Warjani (72) tokoh masyarakat menguatkan apa yang disampaikan KH Miftah Busrowi tentang Susukan. Antara Susukan II dan Susukan III, mengalir sungai yang berasal dari daerah Ngino ke selatan, sampai utara Kalurahan Margokaton, membatasi keduanya menuju persawahan selatan Susukan II sampai Si Panji. Di sebelah barat Susukan III di atas Selokan Mataram, mengalir sungai kecil. Tempat pertemuan selokan Mataram dan sungai kecil itu dinamai Pleret. Bisa juga nama Susukan diambil dari kata terusan yang disebut pleret.
Cerita itu dulu disampaikan almarhum Kyai Isyad. Susukan III, letak geografisnya lebih rendah dari Susukan I, dan II. Di Susukan III pernah muncul sumber air yang sangat besar(seperti penuturan KH Miftah Busrowi). Masyarakat berupaya untuk mencegah, upaya dilakukan dengan mengadakan doa dan upacara serta pentas kesenian. Selesai acara, seperangkat gamelan pengiring, untuk menutup sumber air itu hingga berhenti. Namun ada sedikit yang masih mengalir, masuk kolam masjid Al Muttaqiin Susukan III.
Menurut Warjani berdirinya pondok Assafiiyah, semula pengajian dilakukan di rumah, dengan beberapa santri diasuh Kyai Asrofi. Di antara para santri, itu ada putra Bendoro (Ndoro) Ahmad Bafaqih dari Kemusuh, Banyurejo,Tempel, tokoh agama yang dihormati dan diagungkan karena karomahnya. Beliau wafat dimakamkan di Makam Kemusuh. Bendoro (Ndoro) Ahmad Bafaqih berpesan kepada Kyai Asrofi, untuk mengadakan Khaul untuk Kyai Baidhowi di makam Susukan III. Beliau juga berpesan , “Simbah Baidhowi dikhouli, ora mung pisan, yen pancen pantes dikhouli bakal saya megar. Masyarakat bakal makmur, omah gedhek bakal bisa dadi gedhong”. Pesan itu dilaksanakan.
Berkat karomah beliau, pondok Assaffiyah berkembang sampai wilayah Sleman dan Bantul, jumlah santri semakin banyak, tua dan muda dari berbagai daerah. Makam leluhur Susukan III, dibangun bersama masyarakat. Khoul pertama kali dilaksanakan untuk kalangan keluarga, akhirnya masyarakat terpanggil. Khoul dilaksanakan setiap tahun, di bulan Bakda Mulud. Perkembangan pesantren berjalan terus, khataman diadakan tiap tahun. Pengajian berlangsung dalam satu rangkaian pelaksanaan khoul Simbah Kyai Baidlowi. Para santri, dikelompokkan sesuai jenis kajian yang diikuti. Susukan menjadi padukuhan yang religius. Ketika Kyai Asrofi meninggal, pengasuh pesantren dilajutkan oleh putera-puteranya. Kyai Rohmad didukung oleh seluruh keturunan Kyai Asrofi. Bahkan putra- putri beliau sudah terpencar mengembangkan agama Islam di berbagai tempat. Banyak Kyai hasil didikan Pondok Pesantren yang melanjutkan Susukan sebagai ‘kota santri’. Hafidhoh dan hafidh, pengajar kitab kuning, terus berkembang. Makam Kyai Baidhowi yang awalnya tidak terurus , dibangun cukup bagus setiap Kamis sore atau Jumat pagi banyak peziarah datang ke makam Kyai Baidlowi.
Bukti unsur sejarah yang dimiliki Padukuhan Susukan di antaranya, makam Mbah Susuk, makam Kyai Baidlowi, batu candi , Masjid Al Muttaqiin, Tuk Ubal, Sumur tua, kolam bertuah, sejarah Pondok Assyafiiyh. Hingga sekarang masyarakat masih percaya bahwa Mbah Susuk adalah ‘cikal bakal’ Padukuhan Susukan.
Pembuat Artikel: Nursiyah, S.Pd.
Tenaga Ahli Penulis: Sutopo Sugihartono
Foto: Nursiyah, S.Pd.