Kesenian Tradisional

Kalurahan Margokaton menyimpan kekayaan seni tradisi yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Berbagai bentuk seni pertunjukan masih lestari, diwariskan lintas generasi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial dan spiritual warga.

Karawitan merupakan salah satu bentuk seni yang paling menonjol, dengan kelompok-kelompok gamelan aktif tersebar di beberapa padukuhan seperti Susukan I, Susukan II, Bolu, Planggok, Seyegan, dan Bantulan. Irama gending dan tembang Jawa masih kerap mengalun dalam hajatan, upacara adat, hingga latihan rutin warga.

Di wilayah Seyegan dan Bantulan, hidup pula pertunjukan rakyat seperti Ketoprak dan Jathilan. Kedua seni ini tak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga menjadi sarana penyaluran ekspresi budaya dan kebersamaan warga.

Seyegan juga menjadi pusat pertunjukan Wayang Thengul dan Sandiwara Basa Jawa, dua bentuk teater tradisional yang menggambarkan cerita-cerita rakyat maupun kisah-kisah sejarah.

Selain itu, hampir setiap padukuhan di Margokaton memiliki kelompok Hadrah, yang memainkan seni musik Islami bernuansa religi dan syair-syair pujian.

Kelompok yang menonjol adalah Kobro Ngaran “Mudho Siswo” dan ada juga di padukuhan Susukan III “Santri Siswo” serta di Somokaton terdapat kesenian Badui, sering tampil di perayaan keagamaan dan acara adat desa. Seni shalawat juga tumbuh subur, seperti Shalawat Pitutur “Laras Pitutur” dan Shalawat Maulid di Seyegan, yang memadukan pujian kepada Nabi Muhammad dengan pesan-pesan moral dalam bahasa Jawa. Sementara itu, kelompok Bregodo “Mbah Bantul”, yang bermarkas di Bantulan.

Margokaton bangga memiliki enam orang dalang wayang kulit, yang menjadi penjaga tradisi pewayangan. Empat di antaranya berasal dari Seyegan, satu dari Susukan III, dan satu berasal dari Somokaton, mereka kerap tampil dalam gelaran wayang kulit di berbagai hajatan desa maupun pentas seni. Aktivitas kesenian di Margokaton tak lepas dari peran dua sanggar seni yang aktif dan konsisten membina generasi muda, yakni Sanggar Tari dan Lukis “Mata Merah” di Planggok, serta Sanggar Seni Budaya “Maton” di Seyegan. Kedua sanggar ini rutin menggelar latihan dan turut meramaikan acara-acara keagamaan, perayaan kemerdekaan, hingga panggung-panggung kesenian desa.