Kyai Baidowi
Babad Dipanegara Manado, yang langsung ditulis oleh Pangeran Dipanegara, menulis sosok ini dengan nama: Syekh Bulawi. Seorang ngulama yang berguru kepada Syekh Ismangil di Gerjen. Keduanya adalah sesama ngulama yang saling berguru satu-sama lain (Ginuron Samya Ngulama).
Suatu hari, Syekh Ismangil ditangkap oleh pasukan musuh. la melawan bersama pengikutnya hingga mereka mati syahid dan dimakamkan di Gerjen. Begitu pula nasib Syekh Bulawi. la disergap pasukan Belanda. Dengan penuh-seluruh daya ia melawan tentara kapir. Pasukan kapir banyak yang mati. Syekh Bulawi akhirnya mati syahid dan dimakamkan di Susukan III.
Saat ini, di sisi tumur pemakaman mereka terdapat satu di antara Masjul Kagungan Dulen atau masiid milik Keraton Yogyakarta.
Peristiwa ini diceritakan oleh Babad Dipanegara, dalam tembang bermetrum Maskumambang, pupuh XXIV pada atau bait 154-157: Ing
Garejen wismanya nama nireki
She Ismangil ika Tinutup mring tiyang kapir
Senapati tan uninga
Lajeng ngamuk
kapir kathah ingkang mati
She Ismangil mulya Dhumateng Sabilolahi
She Bulawi ing Susukan Pantinutup She Bulawi lajeng sabil
Kapir kathah pejah
Mengkana ingkang winarni
Tumenggung Kretanegara
Terjemahan:
Di Grejen rumah seseorang yang bernama
Syekh Ismangil itu
ia ditangkap oleh orang kafir
pemimpinnya tidak tahu
Lalu Syekh Ismangil mengamuk
hingga para kafir banyak yang mati
begitu pula Syekh Ismangil wafat dalam rangka Perang Sabilillah
hal yang sama terjadi pada Syekh Bulawi di Susukan
Yang ditangkap hingga Syekh Bulawi juga wafat sabilillah
pihak kafir banyak pula yang mati
begitulah yang diceritakan waktu itu Tumenggung Kertanegara
Makam Syekh Bulawi (Kyai Baidowi) berada di dalam sebuah tajug besar beratap limasan menyerupai pendopo di sebelah Selatan Masjid Al-Muttaqin, Susukan III, Margokaton, Seyegan, Sleman. Masjid ini termasuk bangunan bersejarah yang dibangun pada tahun 1748, sekira tujuh tahun sebelum Perjanjian Giyanti pada tahun 1755.
Nisan makam Syekh Bulawi berbentuk limasan. Bagian kemuncaknya membentuk citra berlian. Sedangkan bagian kaki hingga pinggangnya berbentuk bujur sangkar. Di sekeliling makam ini, masih di dalam tajug yang sama, terdapat tiga belas makam. Beberapa makam mencirikan budaya nisan-kijing dari era 1700 akhir hingga 1800-an. Sedangkan beberapa makam lain tidak bernisan. Berdasarkan cerita warga, kawasan ini dulu pernah dibangun oleh Kyai Nur Iman dan para ngulama sesepuh lainnya sebelum ia tinggal di Mlangi, sekitar 10 kilometer ke arah tenggara masjid.