Kyai Haji Ahmad Muso
Kyai Haji Ahmad Muso, seorang ulama yang gigih dalam menyebarkan agama Islam, berasal dari Kampung Sayidan, Yogyakarta. Beliau mendapat perintah dari Kasultanan Yogyakarta untuk menyebarkan ajaran Islam hingga ke pelosok daerah, termasuk Sonoharjo. Dengan tekad yang kuat dan iman yang kokoh, Kyai Haji Ahmad Muso menjalankan amanah tersebut dengan mendirikan pondok pesantren di Sonoharjo. Pondok pesantren ini menjadi pusat penyebaran agama Islam dan pendidikan bagi masyarakat setempat.
Kehidupan Kyai Haji Muhammad Muso diwarnai dengan kesederhanaan dan ketulusan dalam menjalankan tugas sebagai penyebar agama. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang baik kepada para santri dan masyarakat. Dengan dedikasi dan keteladanan yang beliau tunjukkan, Kyai Haji Ahmad Muso berhasil membangun pondok pesantren yang menjadi rujukan bagi masyarakat Sonoharjo dan sekitarnya.
Setelah wafat, Kyai Haji Ahmad Muso dimakamkan di sebelah barat daya Makam Tekekan. Makam beliau memiliki aura yang mistis, dengan cerita-cerita tentang hewan yang masuk ke area makam tidak bisa keluar, dan orang-orang yang berziarah dengan niat tidak baik akan dihadapi dengan kemarahan oleh penghuni makam. Konon, dahulu makam Kyai Haji Ahmad Muso terletak dalam posisi tanah yang miring, sehingga orang yang berziarah bisa terlempar keluar jika niatnya tidak baik. Namun, jika hajatnya baik, biasanya akan terkabul.
Peninggalan Kyai Haji Ahmad Muso yang dulu digunakan sebagai pondok pesantren kini menjadi masjid. Kyai Haji Ahmad Muso, seorang tokoh yang dihormati dan dikenang oleh masyarakat Sonoharjo dan sekitarnya.
Semangat beliau dalam menyebarkan agama Islam dan mendidik masyarakat melalui pondok pesantren yang beliau dirikan menjadi warisan berharga bagi generasi-generasi selanjutnya.