Trap Utara : Jejak Sesepuh dan Simbol Penghormatan
Adat pemakaman di Jawa mengenal tatanan yang sarat makna. Makam para sesepuh selalu ditempatkan di baris atau trap paling utara pasarean. Arah utara diibaratkan gunung, lambang tempat tertinggi dan paling mulia. Jika tak di utara, makam sepuh berada di tengah sebagai pancer, pusat yang memuliakan leluhur di tengah lingkar kehidupan generasi berikutnya.
Di trap paling utara pasarean Somokaton, terdapat empat makam berjajar, dua di antaranya memiliki nisan berhias surya suminar (matahari bersinar), dilengkapi motif tumpal dan kembang patran. Ukuran nisan tidak terlalu tinggi, kijing pun pendek. Tepat di selatan barisan ini ada satu makam tanpa nisan Dari ciri bentuk dan ragam hiasnya, makam-makam ini diperkirakan berasal dari pertengahan 1700-an, masa Kraton Kartasura. Sigit Subangun, sesepuh Somokaton, menyebut salah satu makam di trap ini bernama Kyai Hasan Ma’ruf, meski posisi pastinya belum teridentifikasi. Pola hias nisan ini mengacu pada tipe Hanyakrakusuman, pola yang muncul sejak masa Sultan Agung (1613-1645) dan tetap dipakai hingga era Amangkurat dan Hamengkubuwana. Corak semacam ini lazim pada makam bangsawan atau tokoh agama yang dihormati.
Di sisi timur trap utara, masih ada beberapa makam tua dengan nisan kemayu, menandakan kemungkinan jenazah perempuan, meski bisa juga laki-laki Fenomena ini umum di Mataraman.