Masjid Al Muttaqin
Masjid ini termasuk bangunan lama, merupakan bukti peninggalan Islam masa lalu yang terletak di Padukuhan Susukan. Masjid yang dulu dikatakan ‘wingit’, boleh dibangun tetapi tidak boleh merubah bentuk aslinya. Di depan masjid ini dulu ada dua pohon sawo, baru dipotong tahun 2015 karena sudah tua dan pertimbangan keamanan. Di dekat bangunan masjid ada kolam, konon diyakini air kolam ini mengandung berkah oleh masyarakat. Jika ada anak sakit dimandikan di kolam masjid ini segera sembuh.
“Bila kepala pusing kemudian mandi keramas di kolam itu akan segera merasa segar dan hilang pusingnya,” ujar Kamdi Harowi.
Masjid ini termasuk salah satu masjid ‘pathok negoro,’ kagungan Ngarsa Dalem, seperti yang ada di Mlangi, Kerisan, Ploso Kuning, dan Kemusuh. Ciri masjid ‘pathok negoro’ pada pada tiang, di masjid ini tiangnya ada 16. Masjid ini berulangkali dibangun dan kapan dibangun ada tulisan tahun di kayu bagian atas . Beberapa waktu yang lalu masjid ini, juga dihadiri piyayi dari keluarga Kraton Yogyakarta . Mereka meminta agar bangunan masjid ini tetap dilestarikan jangan sampai tergeser oleh budaya baru. Di sekitar masjid juga ditemukan peninggalan kuno batu candi, bekas sumur tua dan banyak batu nisan yang berukuran besar.
Masjid Al Muttaqin menurut Kyai Miftah, bukan dibangun langsung sekali jadi, tetapi dibangun sesuai bagian–bagian bekel. Karena pembangunan diserahkan kepada para bekel saat itu. Masjid itu mulanya hanya berupa bangunan sederhana, berpetak-petak, berdinding bambu dan beratap rapak. Masjid dibangun pada jaman simbah Nur Iman., salah satu prajurit pengikut Pangeran Diponegoro, yang mesanggrah di Susukan ini kemudian melanjutkan perjungannya sampai ke daerah Nanggulan, Kulonprogo.