Shalawat Pitutur

Sholawat Pitutur, Harmoni Seni dan Dakwah dari Seyegan Sleman

Di Padukuhan Seyegan, terdapat sebuah kesenian unik bernama Sholawat Pitutur. Seperti namanya, kesenian ini memadukan lantunan sholawat dengan pesan-pesan moral yang terselip dalam syairnya. Berbeda dengan sholawat Maulid yang murni berbahasa Arab, Sholawat Pitutur menggunakan tembang Jawa dengan pakem macapat seperti Mas Kumambang, Mijil, Sinom, hingga Asmarandana.

Alunan tembang tersebut diiringi instrumen tradisional Jawa, meski terbatas pada saron, terbang, gender, slenthem, kendang, terbang kecil, dan gong besar. Suasana syahdu kian terasa karena perpaduan seni dan nuansa religius ini mampu menyejukkan hati pendengarnya.

Sholawat Pitutur mulai berkembang pada tahun 1990-an. Saat itu, seorang tokoh seni Seyegan bernama Mujidal bersama almarhum Ustaz Rohwadi menggagas latihan sholawat setelah mereka terinspirasi dari sebuah pertunjukan di Padukuhan Kasuran Wetan, Margomulya, serta di Padukuhan Pokoh, Banyureja, Tempel. Awalnya hanya para bapak yang aktif, namun kemudian para ibu turut serta meramaikan. Tidak hanya warga Seyegan, masyarakat dari padukuhan sekitar pun ikut tertarik.

Kekuatan Sholawat Pitutur terletak pada kebersamaan antara para seniman dan para kiai. Seni ini tidak sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media syiar Islam yang menyentuh hati. Setiap malam Minggu, mereka berlatih hingga mampu menghafalkan sedikitnya 15 tembang secara kolektif.

Perjalanan Sholawat Pitutur semakin dikenal ketika Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman mengundang mereka tampil di kantor dinas. Kesempatan serupa juga datang dari Monumen Jogja Kembali. Bahkan, salah satu penampilannya sempat direkam dan ditayangkan di TVRI Yogyakarta.

Dukungan juga datang dari perguruan tinggi. Pada tahun 2017, bertepatan dengan acara bersih dusun, Universitas AMIKOM Yogyakarta memberikan bantuan berupa seragam baru. Penampilan Sholawat Pitutur bersama kesenian lain di Seyegan saat itu kian memukau.

Namun, pandemi Covid-19 membuat kegiatan seni ini terhenti. Selama lebih dari dua tahun, para anggota yang sebagian besar sudah sepuh tidak lagi menggelar latihan rutin. Meski begitu, alat musik tetap dirawat dan dibersihkan, menunggu waktu untuk kembali dipentaskan.

Kini, Sholawat Pitutur menghadapi tantangan baru: menarik minat generasi muda. Meski terkesan sederhana dan mungkin tidak sepopuler hiburan modern, kesenian ini sesungguhnya menyimpan nilai luhur. Tembang-tembangnya penuh dengan pitutur, nasihat hidup yang menyejukkan, dan warisan budaya yang layak dilestarikan.

Ayo kabeh masyarakat,
Bareng bareng maca sholawat
Mareng kanjeng nabi Muhammad,
Berkat Sholawat Maksiat Minggat

Ulama’e ngajak sholawat,
Umaro’e ngajak sholawat
Masyarakat gelem sholawat,
Berkat sholawat uripe nikmat

Para kyai ndherek sholawat,
Para habaib ndherek sholawat
Bareng bareng masyarakat,
Berkat sholawat uripe nikmat

Alhamdulillah awake sehat,
Alhamdulillah awake kuat
Nderek majelis bersholawat,
Berkat sholawat uripe nikmat

Urip neng ndoya iku singkat,
Sing langgeng neng akherat
Mulo ayo dha sholawat,
Berkat sholawat uripe nikmat

Ayo kabeh masyarakat,
Bareng bareng maca sholawat
Mareng kanjeng nabi Muhammad,
Berkat sholawat maksiat minggat

Ulama’e ngajak sholawat,
Umaro’e ngajak sholawat
Masyarakat gelem sholawat,
Berkat sholawat maksiat minggat

Alhamdulillah awake sehat,
Alhamdulillah awake kuat
Berkat Nderek majelis sholawat,
Berkat sholawat indonesia selamat

Urip neng ndoya iku singkat,
Sing langgeng neng akherat
Mulo ayo dha sholawat,
Berkat sholawat Indonesia selamat