Makam Kyai Dan Nyai Susuk

 

Dusun Susukan diyakini berawal dari sepasang suami istri yang dikenal sebagai Mbah Susuk, tokoh pertama yang menetap di wilayah ini. Semasa hidup, pasangan tersebut tinggal di daerah yang kini dikenal sebagai Susukan II, dan setelah wafat, keduanya dimakamkan di Susukan I. Hingga kini, makam Mbah Susuk masih terawat dengan baik dan menjadi tujuan ziarah tahunan warga setiap bulan Bakda

Mulud, tetapi nisan lama telah diganti sehingga tidak bisa terlacak tahun dimakamkan. Nama “Susukan” sendiri berasal dari wasiat Mbah Susuk yang berpesan agar wilayah tersebut diberi nama itu jika berkembang menjadi permukiman. Kyai Susuk berkata, “Jika besok terjadi kemakmuran di daerah ini, akan kuberi nama Susukan”.

Pesan itu kini menjelma menjadi identitas dusun yang tidak hanya dikenang secara historis, tetapi juga dijaga secara budaya oleh generasi penerus. Tradisi ziarah dan cerita lisan tentang Mbah Susuk terus hidup, memperkuat ikatan spiritual masyarakat dengan asal-usul nama dari dusun mereka. Dengan begitu, nama “Susukan” bukan sekadar penanda geografis melainkan simbol warisan leluhur yang terus mengilhami kehidupan warga hingga kini.