Sadyakalaning Candi Grajegan

Menjelang siang tadi saya diajak Lik Mei dan Pak Agus Suprihono ke Grajegan, melihat serakan Banon atau batu bata di ladang tebu. Banon-banon tersebut ratusan tahun lalu adalah bagian dari struktur Candi Bata. Terakhir saya ke Grajegan adalah tahun 2011, saat mendapat kabar temuan kepala arca (foto kanan atas koleksi Harian Solo Pos). Pada saat itu, opa KB dan mas Windukarsa dari Bol Brutu (gerombolan pemburu batu) sempat menengok dan memotret tampilan struktur batu bata yang tersingkap. Saya ndak kumanan karena sudah ditutup kembali.

Situs Grajegan ini sebetulnya sudah mulai dikenal pada 80an dengan temuan potongan badan arca yang sempat disimpan pada rumah warga. Termasuk istimewa sebetulnya karena cukup jarang Candi di DIY yang berbahan batu bata. Sayangnya memang tidak ada kajian lebih lanjut, mungkin termasuk kategori situs yang “jejak budayanya sudah teraduk” jadi “ndak bisa diapa-apain” lagi. Saya sempat memotret fragmen Stupa batu bata, dan kaki arca temuan (foto kanan tengah dan bawah) dari Candi Grajegan yang tersimpan di kantor BPCB DIY Bogem sekitaran 2011-2012, kantor yang kini bernama BPK wilayah X DIY Jateng. Dari jejak temuannya, Candi Grajegan ini adalah Candi Buddhis.

Ladang tebu yang baru saja dipanen tampak terbuka, sehingga beberapa serakan cuwilan batu bata terlihat. Beberapa bata yang masih utuh tadi berada di galengan parit kecil yang membagi beberapa petak ladang. Saya teringat perjalanan ke Trowulan kemarin, saat panen tebu, lalu akan tanam kembali, alat yang digunakan adalah traktor Transformer besar yang kalo ngeduk memang akan meremukkan struktur bata yang tersembunyi di dalam tanah.