EPOS DIPONEGORO: GUGURNYA SANG BRANJANG KAWAT

Kabut pagi masih menggantung malas di gerbang kota Magelang ketika Kyai Branjang Kawat menghentikan kudanya. Binatang itu meringkik pilu, kaki depannya mengais debu bagai menolak melangkah lebih jauh. “Tenang, kawan,” bisiknya sambil membelai leher kuda yang berkeringat dingin. Tapi hati sang kyai sendiri berdegup seperti genderang perang.

Dari balik kerudung fajar yang basah embun, siluet pasukan Residen Belanda berdiri membentuk barikade. Di depan mereka, seorang perwira berambut pirang menyilangkan senapan di dadanya. Logat Belandanya kaku tapi tajam, seperti pedang yang belum sempat berkarat.

“Hanya Pangeran yang boleh masuk. Para pengawal tinggal di luar. Perintah Residen.”

Kyai Branjang Kawat mendengus. Matanya menyipit, menatap tajam ke arah senapan yang terkokang itu. Tangan kanannya mengusap gagang belati pusaka yang terselip di balik sabuk kulit. Bilahnya terasa hangat, tanda darah bisa tertumpah pagi ini

Pangeran Diponegoro menoleh pelan, sorot matanya tenang namun keras.

“Mereka bukan sekadar pengawal. Mereka adalah bagian dari tubuh dan jiwaku. Tanpa mereka, aku bukan siapa-siapa.”

Tapi perwira Belanda itu tak bergeming.

“Ini negosiasi, bukan perang. Pangeran aman bersama kami.” Suara itu terdengar manis, tapi mengandung racun Kyai Branjang Kawat maju satu langkah. Suara sandal kulitnya menggerus tanah lembab.

“Kalau ini negosiasi, kenapa senapan kalian mengarah ke dada kami?” katanya. Suaranya berat, serak, seperti gong lawas yang diseret keluar dari peti perang.

la tahu ini bukan sekadar negosiasi. Ini kelicikan yang sudah ditata rapi. Seperti kisah Ki Ageng Mangir, dijebak dalam keraton, dibunuh tanpa perlawanan, dikubur dengan kehormatan palsu.

Langit mulai merekah. Burung belum sempat berkicau ketika suara besi disarungkan bergema. Dalam sekejap, belati Branjang Kawat telah menempel di leher perwira itu.

“Tarik prajuritmu, atau kepalamu kugulung jadi ikat pinggang!”

Beberapa serdadu langsung mengokang senapan, tapi tangan mereka gemetar. Mereka tahu cerita tentang lelaki ini. Di Medari, ia menebas tiga serdadu Belanda dalam sekali ayunan. Di Tegalrejo, ia bertempur dengan tubuh penuh luka, tetap berdiri meski kakinya tertembus peluru.

Namun saat ketegangan menembus titik darah penghabisan, suara Pangeran Diponegoro hadir seperti hujan yang mereda.

“Paman Branjang Kawat, turunkan senjata itu! Ini bukan waktunya menumpahkan darah.”

Sang Kyai menahan napas. Pandangannya bertaut dengan tatapan Pangeran, dalam, teduh, tapi menyimpan perintah yang tak bisa dibantah. la menurunkan belati perlahan, meski hatinya mendidih.

“Ini bukan negosiasi, Pangeran. Ini jebakan! Aku bisa mencium

baunya dari jauh.”

Pangeran Diponegoro hanya mengangguk, pelan tapi pasti.

“Kau dengar itu, Tuan Perwira Jaga?” kata Sang Pangeran. “Jangan sampai nanti orang Belanda dibilang pengecut oleh dunia karena mewariskan sejarah hitam di Hindia Belanda ini”

Kyai Branjang Kawat mengepalkan tangan la tahu, ini bukan akhir. Ini hanya permulaan dari pengkhianatan yang lebih kejam dari ujung senapan

Dan fajar pun merekah penuh darah

Sang Kyai menahan nafas, lalu melepaskan kerah baju seragam itu Perwira Jaga pucat, tak sanggup berkata.

Perjalanan dilanjutkan Namun dalam hati Branjang Kawat menjerit la teringat Pangeran Joyokusumo, yang gugur setahun silam, jasadnya ditemukan di bawah beringin, mata terbuka, senyum getir membeku. Sejak itu, wajah Sang Pangeran muram bagai langit sebelum badai. Ditambah Syeikh Ismail dan Kyai Baidowi yang tewas di Gerjen. Kini, seakan nasib buruk kembali membuntuti.

“Mereka licik!” desis Sang Kyai kepada tiga pengawal lainnya. “Jika terdesak, Belanda akan pakai cara-cara primitif yang paling hina untuk menghadapi kita.”

Pangeran hanya menjawab lirih, “Serahkan pada Allah.”

Ruangan kediaman Residen pengap oleh bau minyak plitur dan kepalsuan. Jenderal de Kock duduk tegak, jarinya mengetuk meja jati.

“Kami tawarkan kedamaian…” ujarnya semanis sirup. Pangeran Diponegoro menyeringai. “Damai dengan rantai bernama perbudakan?”

Suara itu menggema, membuat udara terasa membeku. Dari balik jendela, Kyai Branjang Kawat melihat bayangan serdadu bersenjata merayap seperti hantu. Ketika pintu terbuka dan de Kock tersenyum kemenangan, Kyai tak butuh penjelasan. “Khianat!” pekiknya sambil mencabut belati. Dua serdadu Belanda roboh sebelum sempat menarik pelatuk. Pertempuran tak seimbang pun pecah. Tiga pengawal gugur seketika, tubuh mereka berlubang timah panas. Tapi Branjang Kawat bagai siluman. Peluru demi peluru meleset, seakan ada tangan gaib membelokkannya. Senjata tajam pun tumpul di kulitnya, seolah menyentuh bayangan, bukan daging. Hingga bisikan itu muncul. Dari mulut pengkhianat pribumi kepada sang komandan: “Ludahmu adalah kuncinya. Maka, di tengah hiruk peluru, sang komandan meludahi bilah pedangnya. Gerakan hina, tapi penuh niat mematikan. Pedang berliur itu menyambar. Kyai Branjang Kawat menghindar, tahu kelemahannya terbongkar. la merangsek, menebas, tubuhnya berlumur darah musuh. Tapi jumlah mereka bagai air bah. Pedang itu kembali datang, kali ini tak bisa ia elakkan. Untuk pertama kalinya, kulit sang Kyai terbelah. Kepala terpenggal, tapi sebelum jatuh, bibirnya masih berbisik, entah kutukan atau tawa getir. Ludah, yang hina ternyata meruntuhkan kekuatan tak tertembus. Atau karena kehinaan itu, kutukan akhirnya pecah? Belanda menang. Tapi siapa yang benar- benar kalah Malam itu, warga Somokaton dikejutkan derap kuda lambat. Seorang anak gembala mengintip dari balik pintu, melihat pemandangan yang seekor kuda tua berjalan lesu, di punggungnya tubuh tanpa kepala yang masih seekor kuda tua berjalan lesu, di punggungnya tubuh tanpa kepala yang masih meneteskan darah segar. Kuda itu berhenti di depan rumah Kyai Branjang Kawat, meringkik pilu, lalu roboh.

Warga menguburkan sang Kyai di makam Somokaton, bersama belatinya yang bengkok. Batu nisannya tanpa nama, hanya lekukan gambar belati dan tapal kuda. Tapi setiap 28 Maret, selalu ada bunga melati segar dan jejak kaki kuda di atas kuburnya. Para sesepuh berbisik: roh pejuang sejati tak pernah benar-benar pergi. la tetap berdiri di garda terdepan, mengawal impian Diponegoro tentang tanah Jawa yang merdeka.